Info Article selamatkan bumi img

Aku, Kamu, Kita: Menjadi Penyelamat Bumi dari Rumah

Diposting oleh : :

Oleh: Harley Fatahillah Yodhaloka Sunoto
SMP Negeri 1 Surabaya

Siapa bilang menyelamatkan bumi harus pakai jubah atau kekuatan super seperti di film-
film? Aku percaya, setiap dari kita bisa jadi pahlawan bumi — dimulai dari tempat yang

paling dekat dengan kita: rumah.
Aku ingat satu sore, ketika Ibu baru saja pulang dari belanja. Aku membantu membongkar
isi tas belanja dan melihat ada begitu banyak plastik sekali pakai. Waktu itu, aku iseng
bertanya,
“Bu, bisa nggak kita belanja pakai tas kain aja, biar nggak nambahin plastik?”
Ibu menatapku sebentar, lalu tersenyum, “Itu ide bagus, Ley.”
Dari situlah semuanya dimulai.
Aku mulai memperhatikan kebiasaan-kebiasaan kecil yang selama ini aku anggap biasa.
Seperti membiarkan lampu kamar menyala meski aku sedang nonton di ruang tamu. Atau
lupa mencabut charger walau HP sudah penuh. Tanpa sadar, aku sedang memboroskan
energi. Padahal bumi kita sedang butuh pertolongan.
Akhirnya aku mulai menyusun misi pribadiku: menjadi penyelamat bumi dari rumah.
Misi 1: Mengurangi Sampah
Aku belajar memilah sampah rumah tangga. Di dapur, aku letakkan dua ember: satu
untuk sisa makanan (organik), satu lagi untuk plastik dan bungkus makanan (anorganik).
Seru juga ternyata. Aku jadi tahu kalau kulit pisang bisa dijadikan kompos, dan botol
plastik bisa aku kumpulkan buat dikirim ke bank sampah.
Misi 2: Hemat Air
Saat gosok gigi, aku biasakan menutup keran. Kalau cuci tangan, aku pakai air
secukupnya. Waktu mandi, aku coba batasi waktu agar tidak terlalu lama. Hemat air itu
keren, bukan pelit, tapi peduli!
Misi 3: Matikan yang Tak Perlu
Sekarang, setiap kali aku meninggalkan ruangan, aku cek dulu: lampu sudah mati belum?
Kipas angin atau TV masih nyala? Bahkan kadang aku ingatkan Papa, “Yah, chargernya
dicabut ya!”

Sedikit demi sedikit, rumah kami mulai berubah jadi rumah yang lebih sadar energi.
Misi 4: Bercocok Tanam
Aku mulai menanam cabai dan daun bawang di pot kecil bekas ember cat. Rasanya
senang banget waktu pertama kali melihat daun-daunnya tumbuh. Menanam itu seperti
memberi bumi napas baru. Aku dan bumi jadi saling menjaga.
Penutup: Dari Rumah, Untuk Dunia
Banyak orang bilang perubahan itu sulit. Tapi menurutku, yang sulit itu adalah memulai.
Setelah kita mulai, ternyata seru juga. Apalagi kalau satu rumah ikut mendukung. Karena
bumi ini bukan hanya milik para ilmuwan, aktivis, atau pemerintah, tapi milik kita semua.

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *