Oleh: Harley Fatahillah Yodhaloka Sunoto, Siswa SMP Negeri 1 Surabaya
Pernahkah kamu membayangkan dunia tanpa listrik? Tidak ada lampu, tidak ada internet,
dan tidak ada gadget yang bisa kita gunakan. Semua hal yang memudahkan hidup kita
saat ini membutuhkan energi. Selama ini, sebagian besar energi yang kita pakai berasal
dari sumber yang disebut bahan bakar fosil, seperti batu bara, minyak bumi, dan gas
alam. Tapi tahukah kamu bahwa sumber energi itu tidak akan bertahan selamanya?
Suatu hari, saat pelajaran IPA, guruku bertanya, “Apa yang akan terjadi kalau minyak
bumi di dunia habis?” Seisi kelas terdiam. Saat itu aku baru sadar, minyak bumi, batu
bara, dan gas adalah sumber daya yang terbatas. Mereka terbentuk selama jutaan tahun,
tapi bisa habis hanya dalam waktu ratusan tahun karena dipakai terus-menerus. Selain
itu, pembakarannya menghasilkan polusi yang memperparah pemanasan global. Dari
situlah aku mengenal istilah energi terbarukan.
Energi terbarukan adalah sumber energi yang bisa diperbarui secara alami, terus-
menerus, dan tidak akan habis walaupun digunakan. Energi ini berasal dari alam yang
selalu ada, seperti sinar matahari, angin, air, panas bumi, dan biomassa. Berbeda dengan
bahan bakar fosil yang menghasilkan gas rumah kaca, energi terbarukan jauh lebih
ramah lingkungan.
Bayangkan sinar matahari yang setiap hari menyinari bumi. Energi itu bisa diubah
menjadi listrik dengan menggunakan panel surya. Bayangkan angin yang berhembus di
pegunungan atau di tengah laut. Angin itu bisa menggerakkan turbin dan menghasilkan
listrik. Air yang mengalir deras di sungai dapat memutar turbin di pembangkit listrik tenaga
air. Bahkan panas dari perut bumi bisa digunakan untuk memanaskan air dan
menghasilkan uap yang menggerakkan turbin di pembangkit listrik tenaga panas bumi.
Semua ini membuatku kagum. Ternyata, alam sudah menyediakan energi yang hampir
tidak terbatas, tetapi kita selama ini terlalu bergantung pada sumber energi yang kotor
dan merusak. Mengapa kita tidak beralih? Ternyata jawabannya tidak sederhana.
Membuat pembangkit listrik tenaga surya atau tenaga angin membutuhkan biaya besar
di awal, dan teknologinya harus terus dikembangkan agar lebih efisien. Tapi banyak
negara sudah memulainya, termasuk Indonesia. Di beberapa daerah, sudah ada desa
yang menggunakan panel surya untuk penerangan. Ada juga pembangkit listrik tenaga
air dan panas bumi yang beroperasi untuk memasok listrik ke kota.
Energi terbarukan bukan hanya tentang teknologi, tapi tentang masa depan. Dunia
sedang mencari jalan keluar dari krisis iklim, dan energi terbarukan adalah salah satu
jawabannya. Semakin cepat kita beralih ke sumber energi ini, semakin besar harapan
kita untuk mengurangi polusi udara, memperlambat pemanasan global, dan mewariskan
bumi yang lebih sehat untuk generasi berikutnya.
Saat aku memikirkan ini, aku bertanya pada diriku sendiri, apa yang bisa aku lakukan?
Aku bukan insinyur atau ilmuwan, tapi aku bisa mulai dengan menghemat energi yang
kupakai setiap hari. Mematikan lampu ketika tidak dipakai, mencabut charger setelah
selesai, dan menggunakan alat elektronik seperlunya. Hal-hal kecil ini mungkin terlihat
sepele, tapi jika semua orang melakukannya, dampaknya besar.
Energi terbarukan mengajarkanku satu hal penting: bahwa masa depan bumi tidak bisa
kita serahkan begitu saja. Kita harus berusaha, karena kita hidup di zaman di mana
keputusan hari ini menentukan seperti apa dunia yang akan kita tinggali besok.
